my friend prays

my friend prays

rss

Prof. Dr. Mohammed Gad El-Hak

Prof. Dr. Mohammed Gad El-Hak
Pemenang Nobel Keinsinyuran Keilmuan Dunia penganugerah Jerman (Alexander von Humboldt Prize,),Mantan Ketua Persatuan Insinyur Mesin Amerika (ASME-American Society of Mechanical Engineer), Pemegang Penghargaan Insinyur Mesin Terbaik Amerika (ASME Freeman Scholar), Pembuka Kurikulum S1 Teknik Mesin Nanoteknologi dan Teknik Biomedik (Kiblat saya ambil PhD teknik mesin dg thesis : computational micromechanics untuk aplikasi analisa bantu penatalaksanaan rekayasa integratif dan modular ......)

in harmonia progressio for

INTI FALSAFAH KASUNYATAN (PHILOSOPHY FOR WHAT'S BEYOND OF "BEYOND" TERM)

BEYOND WHAT BEYOND ITSELF IS ODE TO BASICEQUATION OF DIFFERENTIAL EQUATION IN RAW AND RARE OCCASIONS WHICH OCCURS DAILY.

About Me

Sabtu, 13 November 2010

Des Alwi: Saya Meninggal Nanti, Hari Jumat

Sumber disini
VIVAnews - Enam hari sebelum wafat, sejarawan Des Alwi sudah memberikan tanda-tanda akan pergi. Cucu Des, Farhas, mengingat hari-hari jelang ulang tahun ke-84 tahun kakeknya itu.

"Malam itu dia bolak balik, dari tempat tidur, kursi roda, tempat tidur, kursi roda. Dia sempat bilang: Saya mau pulang dari rumah sakit, saya mati nanti di hari Jumat," kata Farhas mengulang perkataan kakeknya saat ditemui di rumah duka, Jumat 12 November 2010.

Des Alwi wafat Jumat subuh tadi dan meninggalkan empat anak dan enam cucu. Rabu lalu, lanjut Farhas, kakeknya sempat mau kabur dari rumah sakit sambil membawa selang infusan. Untungnya, seorang suster memergoki dia tengah memencet tombol lift. Saat ditanya mau kemana, Des menjawab enteng,"Mau ke Surabaya, upacara hari Pahlawan."

Lalu, keesokan harinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat menelepon Des Alwi untuk menanyakan kabar. Dalam perbincangan itu, Des Alwi kembali melontarkan soal kematian. "Saya habis ini (meninggal)."

Semula, Alwi akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Namun, kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Des Alwi sempat menyatakan permintaan terakhir untuk dimakamkan di kampung halaman, Banda Naira, Maluku.

Des Alwi merupakan peraih Bintang Pejuang 45, Bintang Pejuang 50 dan Bintang Mahaputra Pratama 2000.
read more "Des Alwi: Saya Meninggal Nanti, Hari Jumat"

Jumat, 12 November 2010

Keajaiban Matematika dalam Al-quran

Oleh: Ali Said (sumber klik di nama pengarang tersebut tadi)

Keajaiban Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya. Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana Muhammad sebagai manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan atau menciptakan sebuah Al Qur’an. Pandangan sains secara konvensional menempatkan matematika sebagai suatu yang prinsipil dari sebuah cabang pengetahuan dimana alasan dikedepankan, emosi tidak dilibatkan, kepastian menjadi hal yang ingin diketahui, dan kebenaran hari ini merupakan kebenaran untuk selamanya. Dalam masalah agama, ilmuan memandang bahwa semua agama sama, karena semua agama sama-sama tidak mampu memverifikasi atau menjustifikasi kebenaran melalui pembuktian yang dapat diterima oleh logika. Jadi suatu hal dikatakan valid jika ada bukti nyata, dan pembuktian ini merupakan sebuah prosedur yang dibentuk untuk membuktikan suatu realitas yang tak terlihat melalui sebuah proses deduksi dan konklusi yang hasil akhirnya dapat diterima oleh semua pihak. Dengan dasar tersebut, tulisan ini mencoba untuk membawa pembaca pada suatu kesimpulan bahwa Al Qur’an yang ditulis menurut aturan matematika, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Kiranya patut juga direnungi apa yang dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa . “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” ada benarnya. Kebenaran bahasa matematika tersebut akan dibahas sekilas sebagai tambahan dari tema utama tulisan ini.

Angka-angka Menakjubkan dari Beberapa Kata dalam Al Qur’an

Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan peroleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tabel 1 menyajikan frekuensi penyebutan beberapa kata penting dalam Al Qur’an yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lain.

Tabel 1. Jumlah Penyebutan beberapa Kata Penting dalam Al Quran

Sumber: From the Numeric Miracles In the Holy Qur’an by Suwaidan, www.islamicity.org




Beberapa kata lain yang menarik dari tabel tersebut adalah kata “syahr (bulan)” yang disebutkan sebanyak 12 kali yang menunjukkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah 12, dan kata “yaum (hari)” yang disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Selanjutnya Kata “lautan (perairan)” disebutkan sebanyak 32 kali, dan kata “daratan” disebut dalam Al Quran sebanyak 13 kali. Jika kedua bilangan tersebut kita tambahkan kita dapatkan angka 45.



Sekarang kita lakukan perhitungan berikut:

· Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr (lautan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(32/45)x100% = 71.11111111111%

· Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(13/45)x100% = 28.88888888889%

Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT dalam Al Quran 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, dan persentase daratan adalah 28.88888888889%, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan di bumi ini.



Al Qur’an Didisain Berdasarkan Bilangan 19

Dalam kaitannya dengan pertanyaan yang bersifat matematis yang hanya memiliki satu jawaban pasti, maka jika ada beberapa ahli matematika, yang menjawab di waktu dan tempat yang berbeda dan dengan menggunakan metode yang berbeda, maka tentunya akan memperoleh jawaban yang sama. Dengan kata lain, pembuktian secara matematis tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu diketahui bahwa dari seluruh kitab suci yang ada di dunia ini, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang seluruhnya ditulis dalam bahasa aslinya. Berkaitan dengan pembuktian, kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang sering dikatakan oleh orang barat sebagai ciptaan Muhammad, dapat dibuktikan secara matematis bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh Muhammad. Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al Qur’an. Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al Quran pada 1968, dan memasukkan Al Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban untuk menjelaskan tentang inisial pada beberapa surat dalam Al Qur’an (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan hanya dengan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”. Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al Qur’an ke dalam sistem komputer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Aphabets” pada Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan 1393. Pada buku tersebut hanya melaporkan bahwa inisial-inisial yang ada pada beberapa surat pada Al Qur’an memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing-masing suratnya, dibandingkan huruf-huruf lain. Misalnya, Surat “Qaaf” (S No. 50) yang dimulai dengan inisial “Qaaf” mengandung huruf “Qaaf” dengan jumlah terbanyak. Surat “Shaad” (QS No. 38) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar. Fenomena ini benar untuk semua surat yang berinisial, kecuali Surat Yaa Siin (No. 36), yang menunjukkan kebalikannya yaitu huruf “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah. Berdasarkan temuan tersebut, pada awalnya dia hanya berfikir sampai sebatas temuan tersebut mengenai inisial pada Al Qur’an, tanpa menghubungkan frekuensi munculnya huruf-huruf yang ada pada inisial surat dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator). Akhirnya, pada Januari 1974 (bertepatan dengan Zul-Hijjah 1393), dia menemukan bahwa bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum[1] dalam insial-inisial tersebut dan seluruh penulisan dalam Al Qur’an, sekaligus sebagai kode rahasia Al Qur’an. Temuan ini sungguh menakjubkan karena seluruh teks dalam Al Qur’an tersusun secara matematis dengan begitu canggihnya yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum. Sistem matematis tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang bervariasi dari yang sangat sederhana (bisa dihitung secara manual) sampai dengan yang sangat kompleks yang harus memerlukan bantuan program komputer untuk membuktikan apakah kelipatan 19. Jadi, sistem matematika yang didasarkan bilangan 19 yang melekat pada Al Quran dapat diapresiasi bukan hanya oleh orang yang memiliki kepandaian komputer dan matematika tingkat tinggi, tetapi juga oleh orang yang hanya dapat melakukan penghitungan secara sederhana.


Selain 19 sebagai kode rahasia Al Qur’an itu sendiri, peristiwa ditemukannya bilangan 19 sebagai “miracle” dari Al Qur’an juga dapat dihubungkan dengan bilangan 19 sebagai kehendak Allah. Disebutkan di atas bahwa kode rahasia tersebut ditemukan pada tahun 1393 Hijriah. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada 13 tahun sebelum Hijriah (hijrah Nabi). Jadi keajaiban Al Qur’an ini ditemukan 1393+13=1406 tahun (dalam hitungan hijriah) setelah Al Qur’an diturunkan, yang bertepatan dengan tahun 1974 M.



Surah 74 adalah Surah Al Muddatsir yang berarti orang yang berkemul (Al Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti rahasia yang tesembunyi, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:

(74:30) Di atasnya adalah 19.

(74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (19) melainkan untuk:

- cobaan/ujian/tes bagi orang-orang kafir,

- meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),

- memperkuat (menambah)keyakinan orang yang beriman,

- menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan

- menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.

(74:32) Sungguh, demi bulan.

(74:33) Dan malam ketika berlalu.

(74:34) Dan pagi (subuh) ketika mulai terang.

(74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari keajaiban yang besar.

(74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.


Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata “innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.





Mengapa 19?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan tentang sistem bilangan. Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”. Click link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai numerik.

Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah dalam Al Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban Al Qur’an. Berikut beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19.




* 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa arab yang artinya ‘esa/satu’ (lihat Tabel 2) Tabel 2. Nilai numerik dari kata “waahid”



* 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada QS 57 ayat 3 sebagai berikut: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3). Kata “waahid” dalam Qur’an disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb). Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).

* Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19

“La – Ilaha – Illa – Allah”

Nilai-nilai numerik dari setiap huruf arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut

“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”

Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19. Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib disembah.







Beberapa Contoh Bukti-bukti yang Sangat Sederhana tentang Kode 19

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain Al Qur’an yang didasarkan bilangan 19 ini, dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban Al Quran (sistim 19) yang dapat ditulis dalam artikel singkat ini. Fakta-fakta yang sangat sederhana:

(1) Kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf arab.

(2) QS 1:1 tersebut diturunkan kepada Muhammad setelah Surat 74 ayat 30 yang artinya “Di atasnya adalah 19”.

(3) Al Qur’an terdiri dari 114 surah, 19×6.

(4) Ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf.

(5) Surah 96 (Al Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat

(6) Surat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surah An-Nashr atau Surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surah terakhir yang turun terdiri dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.

(7) Kalimat Basmalah berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At Taubah) tidak ada Basmalah pada permulaan surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat ekstra Basmalah (dan juga 27+30=57, atau 19 x 3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.

(8) Jika dihitung jumlah surah dari surah At Taubah (QS 9) yang tidak memiliki Basmalah sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu S 27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) sama dengan jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27.

(9) Berkaitan dengan inisial surah, misalnya ada dua Surah yang diawali dengan inisial “Qaaf” yaitu Surah 42 yang memiliki 53 ayat dan Surah 50 yang terdiri dari 45 ayat. Jumlah huruf “Qaaf” pada masing-masing dua surat tersebut adalah 57 atau 19 x 3. Jika kita tambahkan nomor surah dan jumlah ayatnya diperoleh masing-masing adalah (42+53=95, atau 19 x 5) dan (50+45=95, atau 19 x 5). Selanjutnya initial “Shaad” mengawali tiga surah yang berbeda yaitu Surah 7, 19, dan 38. Total jumlah huruf “Shaad” di ketiga surah tersebut adalah 152, atau 19 x 8. Hal yang sama berlaku untuk inisial yang lain.

(10) Frekuensi munculnya empat kata pada kalimat Basmalah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat yang bernomor merupakan kelipatan 19 (lihat Tabel 3)

Tabel 3: Empat kata dalam Basmalah dan frekuensi penyebutan dalam ayat-ayat yang bernomor dalam Al Quran


No. Kata Frekuensi muncul

1 Ism 19

2 Allah 2698 (19×142)

3 Al-Rahman 57 (19×3)

4 Al-Rahiim 114 (19×6)



(11) Ada 14 huruf arab yang berbeda yang membentuk 14 set inisial pada beberapa surah dalam Al Qur’an, dan ada 29 surah yang diawali dengan inisial (seperti Alif-Lam-Mim). Jumlah dari angka-angka tersebut diperoleh 14+14+29=57, atau 19×3.

(12) Antara surah pertama yang berinisial (Surah 2 atau Surah Al Baqarah) dan surah terakhir yang berinisial (Surah 68), terdapat 38 surah yang tidak diawali dengan inisial, 38=19×2.

(13) Al-Faatihah adalah surah pertama dalam Al-Quran, No.1, dan terdiri dri 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam shalat. Jika kita tuliskan secara berurutan Nomor surah (No. 1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19. Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.

Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 4), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.

Tabel 4: Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah


(14) Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan tepat 19 kali. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 5).

Tabel 5. Kata-kata dalam Surah Al-Fatihah yang mengandunghuruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya



Kejadian Di Alam Semesta yang Terkait dengan Bilangan 19

Beberapa kejadian lain di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengacu pada bilangan 19 adalah:

· Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun

· Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).

· Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.

· Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.



Lima Pilar Islam (Rukun Islam) dan Sistem 19

Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam (misalnya lihat QS 2:67, 130-136; QS 5:44, 111; QS 3:52).Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistim bilangan 19 (kelipatan 19).

· Syahadat

Telah dibahas di atas bahwa pilar pertama agama Islam “Laa Ilaaha Illa Allah” didisain berdasarkan bilangan 19.

· Shalat

Kata “shalawat” yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat“ muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk melaksanakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al Qur’an. Selanjutnya jumlah rakaat dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah rakaat pada shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya masing-masing adalah 2,4,4,3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau (24434 = 19×1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah rakaat shalat dalam sehari. Untuk hari Jum’at jumlah rakaat Shalat adalah 15, karena Shalat Jum’at hanya 2 rakaat. Ini juga dapat dikaitkan dengan bilangan 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hari Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah rakaat shalat mulai hari Sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut: 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan tersebut kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 19 atau (19 x 903774587985). Jadi pada intinya shalat itu menyembah Tuhan yang Satu (ingat: 19 adalah total nilai numerik dari kata ‘waahid’). Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap rakaat dalam Shalat seperti dibahas sebelumnya juga mengacu pada bilangan 19. Selanjutnya, kata “Shalat’ dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “Shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 atau 19×246.

· Puasa

Perintah puasa dalam Al Qur’an disebutkan pada ayat-ayat berikut:

- 2:183, 184, 185, 187, 196;

- 4:92; 5:89, 95;

- 33:35, 35; dan

- 58:4.

Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387, atau 19×73. Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk orang laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.

· Kewajiban Zakat dan Menunaikan Haji ke Mekkah

Sementara tiga pilar pertama diwajibkan kepada semua orang Islam laki-laki dan perempuan, Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu. Hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan Zakat dan Haji.

Zakat disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat berikut:


Penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 2395. Total jumlah ini jika dibagi dengan 19 diperoleh sisa 1 (bilangan tersebut tidak kelipatan 19).

Haji disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat

- 2:189, 196, 197;

- 9:3; dan

- 22:27.

Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini tidak kelipatan 19 karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.

Kemudian jika dari kata Zakat dan Haji digabungkan diperoleh nilai total 2395+645 = 3040 = 19x160.



Penutup

Secara umum disimpulkan bahwa Al Qur’an didisain secara matematis. Apa yang dibahas di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan bukti tentang desain matematis dari Al Qur’an dan khususnya tentang bilangan dasar 19 sebagai desain Al Qur’an yang dapat disajikan pada tulisan ini. Selain itu, tulisan ini hanya memfokuskan pada contoh-contoh yang sangat sederhana, sementara untuk contoh-contoh yang sangat kompleks tidak disajikan di sini karena mungkin akan sulit dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang atau kurang memahami matematika. Bilangan 19 yang juga berarti Allah yang Esa, dan juga berarti tidak ada Tuhan melainkan Dia, dapat dikatakan sebagai “Tanda tangan Allah” di alam semesta ini. Hal ini sesuai dengan salah satu firman Allah yang menyatakan bahwa seluruh alam ini tunduk dan sujud kepada Allah dan mengakui keesaan Allah. Hanya orang-orang kafir lah yang tidak mau sujud dan mengakui keesaan Allah. Allah dalam menciptakan Al Qur’an dan alam semesta ini telah melakukan perhirtungan secara detail, seperti firman Allah yang berbunyi: “dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detail)” (QS 72:28). Jumlahkan angka-angka pada nomor surah dan ayat tersebut !!!!!! Anda memperoleh angka 19 (7+2+2+8=19). Dari uraian di atas khususnya mengenai lima pilar Islam diperoleh kesimpulan yang sangat tegas bahwa pemeluk Islam adalah orang-orang yang pasrah dan tunduk menyembah dan mengakui keesaan Allah seperti yang ditunjukkan bahwa kelima pilar Islam tersebut berkaitan dengan sistim bilangan 19 (nilai numerik dari kata “waahid” atau Esa). Hal ini juga sesuai dengan Islam sendiri yang yang secara harfiah dapat berarti pasrah/tunduk. Hal lain yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sistim bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an adalah terpecahkannya “unsolved problem” mengenai perdebatan di antara para ulama terhadap status “Basmalah” pada Surah Al-Faatihah apakah termasuk salah satu ayat dalam surah tersebut atau tidak. Dengan ditemukannya bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an, bukti-bukti matematis pada tulisan ini telah membuktikan bahwa lafal “Basmalah” termasuk dalam salah satu ayat Surah Al-Fatihah. Sebagai penutup, semoga tulisan ini dapat menambah keimanan bagi orang-orang yang beriman, menjadi tes/ujian bagi mereka yang belum beriman, dan menghilangkan keragu-raguan bagi mereka yang hatinya dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran Al Qur’an. Allah akan membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 74:31).



Catatan:

Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al Qur’an anda perlu menggunakan Al Qur’an yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian yang saya lakukan, terdapat banyak perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi (kebetulan saya memegang Qur’an versi cetak Arab Saudi), meskipun perbedaan tersebut tidak berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al Qur’an, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul. Saya hanya memberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Fatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Saya paham, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu anda menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang saya tuliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Fatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Fatihah berada pada HALAMAN 1.
Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (dua hrurf atau lebih), sehingga anda harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.



Daftar dacaan:

1. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.

2. Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, www.islamicity.org

3. Berbagai sumber di www.submission.org dan website terkait
read more "Keajaiban Matematika dalam Al-quran"

Minggu, 03 Oktober 2010

Memaknai Motivasi “Bekerja” Sebagai suatu “Ibadah dan amanah”.......

Sumber disini sama dengan diatas
Berbicara tentang Kata “Bekerja” yang juga seringkali berhubungan dengan pekerjaan, profesi, keahlian, usaha bahkan juga dengan sebuah jabatan,mendorong kita perlu memahami sebenarnya hakekat dari sebuah kata “BEKERJA”.
Sadar atau tidak sadar sewaktu kita kecil oleh orangtua, bahkan mungkin kita menjadi generasi penerus yang juga mengadopsi doktrin yang berpengaruh terhadap pembentukan  pemahaman yang telah memberikan “Sugesti” kuat pada diri kita bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan hidup harus “Bekerja” dan punya “Pekerjaan”. Hal tersebut memang tidaklah salah, hanya seringkali gambaran tersebut kebanyakan lebih bersifat material semata tetapi sangat jarang dibarengi intervensi set-up pemikiran Fi sabilillah.
Contoh konkrit dari hal tersebut adalah kebanyakan orang tua bahkan mungkin termasuk kita, telah melakukan upaya mempengaruhi keyakinan anak-anak kita untuk menyiapkan dirinya kelak menjadi orang yang sukses dalam segala hal... berkecukupan dan sejahtera.... atau juga mungkin akibat apa yang kita rasakan dalam menjalani kehidupan yang fenomenal ini, bahwa hidup ini serba susah, sehingga kita berfikir harus menyiapkan generasi penerus yang siap kelak bisa bekerja dan mudah mendapatkan pekerjaan...
Pemikiran tersebut mungkin tidak semuanya benar, tatapi tentu juga tidak semuanya salah... suatu hal yang sering tidak disadari, kita telah memberikan sugesti pada anak-anak.. misalnya “Nak belajar yang sungguh-sungguh ya agar kelak menjadi orang yang sukses hidup bahagia sejahtera seperti jadi dokter, insinyur, pengusaha, politikus, pejabat dan lain-lain... yang semuanya itu mengarah lebih banyak kepada gambaran material, bahwa kelak harus “BEKERJA” dan punya “:PEKERJAAN” sebagai mata pencaharian yang memberi efek pada sebuah kehidupan yang berkecukupan. Namun kenyataan terkadang tidak seperti yang diharapkan...itulah hidup.
Sebagai penyadaran dari pemikiran tersebut, sejenak penulis  mengajak merenung kepada pembaca bahwa marilah kita memberikan kehidupan ini dengan penuh optimisme dan yakin tentang kekuasaan yang Maha dahsyat dari Al-Khaliq “Allah SWT” pemilik skenario kehidupan ini.
Kepada masing-masing golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari Kemurahan Tuhanmu, Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi”{QS: Al-Isra(17) :20}
“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku” {QS:Al-ahzab (33):38}.

Dalam hal ini “DR.’Aidh bin Abdullah al-Qarni,MA” dalam bukunya yang berjudul “Don’t be Sad” menguraikan bahwa Seni Kebahagiaan yakni :
Diantara anugerah terbesar adalah mempunyai hati yang tenang, tentram dan bahagia. Karena dalam kebahagiaan akal menjadi terang dan mendorong seseorang menjadi pribadi yang produktif. Telah dikatakan bahwa kebahagiaan adalah seni yang perlu dipelajari, jika anda mempelajarinya maka anda akan mendapatkan berkah dalam hidup ini.
Bagaimana mempelajarinya?
Prinsip dasar meraih kebahagiaan adalah dengan memiliki kemampuan dalam menahan kepedihan dan beradaptasi dalam situasi apapun. Oleh karena itu, Anda tidak boleh diatur oleh kondisi-kondisi sulit, Anda pun tidak boleh terusik oleh hal-hal yang sepele.
Atas dasar kebeningan hati dan kemampuannya dalam menghadapi kesulitan, seseorang akan bersinar. Ketika Anda melatih diri untuk bersikap sabar dan berbesar hati, maka kesulitan dan malapetaka akan mudah ditaklukan.
Uraian diatas penulis ketengahkan sebagai pokok pikiran atas menyikapi suatu kondisi pandangan kita dalam “BEKERJA” dan melaksanakan”PEKERJAAN”. Terutama dikalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang senantiasa sering menjadi fokus perhatian dari berbagai pihak. PNS senantiasa dipandang sebagai Pegawai yang enak, nyaman, aman dan prospektif. Hal ini juga bisa dilihat pada setiap adanya rekruitmen CPNS selalu animonya cukup besar bahkan perbandingan kuota dengan pendaftar cukup jauh.... Mengapa demikian?
Tentu menjawabnya ada banyak alasan... namun yang pasti mudah-mudahan bukan karena jadi PNS dengan alasan bekerjanya enak biarpun santai tetap dapat “GAJI” dan bergengsi. Alasan itu sebaiknya tidak boleh terjadi, karena jika sungguh-sungguh memahami makna bekerja sebagai PNS adalah memilki tanggung jawab yang luar biasa, karena sudah menyatakan dan menyepakati diri sebagai “ABDI NEGARA dan ABDI MASYARAKAT’ yang sudah barang tentu memilki konsekwensi pembuktian implementasi dalam bekerja menjalankan amanah dan sebagai ibadah kepada Al-khaliq (Allah SWT).
Bekerja adalah sebagai salah satu bentuk aktualisasi manusia baik sebagai pribadi selaku pegawai maupun sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Oleh karena itu berbagai latar belakang alasan yang mendasari motivasi setiap orang dalam bekerja  memberi pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja/ bekerja, termasuk didalamnya Pegawai Negeri Sipil (PNS). Maka kiranya penting penulis mengemukakan beberapa pandangan tentang “Motivasi” yang melandasi orang melakukan aktivitas/bekerja...
 Mengapa motivasi kerja Pegawai  (PNS red)  penting dibahas?.......
Menurut Gouzali Saydam (Manajemen Sumber Daya Manusia, 2000 : 325) motivasi berasal dari bahasa latin  “Movere”  yang berarti dorongan atau daya penggerak..
Motivasi adalah merupakan suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar, dan melaksanakan tugas-tugasnya itu dengan rasa senang dan puas, pada setiap satuan organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi itu sendiri maupun tujuan pribadinya selaku individual.
Individual senantiasa berusaha mempertahankan adanya keseimbangan dan keserasian diantara kedua kekuatan tersebut. Dorongan dan tujuan itu mempunyai hubungan yang sangat erat, baik dari dalam maupun dari luar dirinya.
Terjadi ketidakseimbangan diantara kedua unsur motivasi ini, dapat menyebabkan terjadinya kekecawaan dan gangguan dalam kegiatan manusia, apabila hal ini benar-benar terjadi, maka suatu organisasi tidak akan berjalan dengan baik, sehingga tujuan organisasi pun tidak akan tercapai sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara dorongan (keinginan) dengan tujuan pegawai (manusia) tersebut.
Pada masa-masa sulit sekarang ini, khususnya yang sedang dialami bangsa Indonesia dalam usahanya bangkit dari keterpurukan disegala bidang, maka setiap warga Negara dituntut untuk senantiasa meningkatkan motivasi kerjanya. Hanya dengan motivasi kerja yang tinggi akan terciptanya budaya kerja yang baik dan diharapkan bangsa Indonesia  mampu serta bangkit kembali mengembalikan harkat dan martabat bangsa dimata dunia.

Untuk itu kiranya kita juga perlu memahami beberapa pendapat ahli tentang motivasi, dengan harapan bisa memberi inspirasi kita dalam bekerja.
 “Stephen P.Robbin”dalam buku Malayu S.P. Hasibuan (Organisasi dan motivasi, 1996 : 96), menyatakan bahwa :  We’ll define motivation as the willingness to exerthigh levels of effort to ward organizational goals, conditional by effort ability to satisfy some individual needs. (Kita akan mendefinisikan motivasi sebagai suatu kemauan berusaha seoptimal  mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi yang dipengaruhi oleh kemampuan usaha untuk memuaskan beberapa kebutuhan individu)
“Merle J. Moskowits” dalam buku malayu S.P.Hasibuan (Organisasi dan motivasi, 1996 : 96) Menyatakan pula : Motivation is usually defined the inititive  and direction of behavior and study of motivation is in effect the study of course of behavior. (Motivasi secara umum didefinisikan sebagai inisiatif dan pengarahan tingkah laku dan pelajaran motivasi yang sebenarnya merupakan pelajaran tingkah laku)
Dominikus Dolet Unaradjan dan Her Djoko Purwanto (Organisasi dan manajemen,1993 :15 ) menyatakan bahwa, pada dasarnya setiap orang yang bekerja mempunyai kebutuhan dalam dirinya dalam waktu yang berbeda, setiap kebutuhan ini dapat menjadi pendorong utama bagi munculnya motivasi kerja dalam dirinya.
‘Soewarno Handayaningrat” (pengantar Studi Ilmu adminisstrasi dan Manajemen, 1989:82) Menyatakan : Motivasi menyangkut reaksi berantai yaitu dimulai dari kebutuhan yang dirasakan (The Need) lalu timbul keinginan atau sasaran yang hendak dicapai (want) kemudian menyebabkan usaha-usaha mencapai sasaran/tujuan yang berakhir dengan pemuasan.
“Buchari Zainun” (manajemen dan Motivasi, 1989  : 17) , motivasi dapat ditafsirkan berbeda oleh setiap orang, sesuai dengan tempat dan keadaan dari pada masing-masing orang itu . salah satu diantara pengguna istilah dan konsep motivasi ini adalah untuk menggambarkan hubungan antara harapan dan tujuan.Dalam suatu organisasi termasuk organisasi pemerintah, motivasi pegawai merupakan faktor yang sangat penting, karena merupakan modal dasar dalam pencapaian tujuan organisasi itu sendiri.
Setiap orang dan organisasi ingin dapat mncapai sesuatu atau beberapa tujuan dalam kegiatan-kegiatannya. Salah satu tujuan biasanya ditampilkan oleh berbagai tanggapan yang di tentukan lebih lanjut oleh banyak faktor. Beraneka ragamnya hubungan yang dialaminya setiap orang dan organiasasi, banyak keanekaragaman hubungan-hubungan yang menentukan motivasi dan tingkah laku pencarian atas pencapaian tujuan. Yang dialami seseorang dalam organisasi akan bertambah banyak, baik secara vertical maupun horizontal, sesuai dengan penambahan jumlah tingkatan dan perluasan organisasi.
Dari pendapat tersebut tersebut diatas jelas terlihat bahwa potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh pegawai (staf), perlu mendapat perhatian untuk dapat digali dan dikembangkan sebaik mungkin demi kepentingan organisasi.
Walaupun seorang pegawai (staf) mempunyai potensi yang besar dan kemampuan yang tinggi, namun jika tidak memilki motivasi yang memadai, maka potensi dan kemampuan tersebut akan sia-sia. Jadi motivasi bagi pegawai adalah merupakan hal yang penting untuk bisa terwujudnya suatu budaya kerja yang baik, sehingga dapat meningkatkan semangat, inspirasi dan dorongan bagi pegawai untuk bekerja dengan lebih baik.
Bagian terpenting yang saat ini sulit dilaksanakan dalam rangka meningkatkan motivasi kerja staf adalah semakin bervariasinya kebutuhan pegawai seiring dengan tuntutan zaman, khususnya kebutuhan yang bersifat material. Motivasi kerja sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan suatau organisasi , maka perlu juga adanya dorongan dan arahan yang jelas dari seorang pemimpin (leader) untuk senantiasa menumbuhkan dan meningkatkan motivasi kerja stafnya.
Keberhasilan suatu organisasi memang tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya motivasi kerja, karena ada factor lain yang mempengaruhi yaitu, antara lain kecakapan dan kemampuan diri pegawai itu sendiri. Kecakapan dan kemampuan itu juga tidak datang begitu saja, tetapi harus ada pendidikan dan pelatihan secara khusus, yang menyangkut spesialisasi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Maka untuk itu perlu disadari juga oleh pegawai dalam melaksanakan tugasnya, bahwa seorang pegawai dalam menuntut haknya harus diimbangi  dengan senantiasa berusaha  meningkatkan pengetahuan (Konwladge), Sikap (attitude) dan Keterampilan (Skill) yang dimilikinya, sebagai implementasi kewajiban yang harus diamalkannya.
Mencermati uraian tersebut diatas, menunjukan bukti bahwa motivasi kerja sangat penting untuk dipelajari , diteliti dan dikaji lebih dalam mengingat motivasi kerja ini menjadi factor yang penting dalam pencapaian tujuan keberhasilan suatu organisasi khususunya untuk Pegawai Negeri Sipil sebagai pelayan masyarakat
Bagi kita selaku Pegawai Negeri Sipil memang sangatlah penting memahami motivasi sehingga tumbuh suatu sikap yang positif dalam bekerja, setelah membahas tentang motivasi berikut penulis mencoba memaparkan beberapa pengertian tentang “KERJA” sebagai yang tertuang dalam Modul”Budaya Kerja Organisasi Pemerintah” LAN RI, bahwa dalam literatur budaya organisasi dapat juga disebut basic assumption tentang sesuatu, dalam hal ini kerja.
Kata Kerja itu apa ?  Kata kerja dapat diidentifikasi berbagai pernyataan sebagai berikut
Kerja adalah hukuman. Manusia sebenarnya hidup bahagia tanpa kerja di Taman Firdans, tetapi karena ia jatuh ke dalam dosa, maka ia dihukum: untuk bisa hidup sebentar manusia harus bekerja banting tulang cari makan. Salah satu bentuk hukuman adalah kerja paksa;

Kerja adalah beban. Bagi orang malas, kerja adalah beban. Juga bagi kaum budak atau pekerja yang berada dalam posisi lemah;

Kerja adalah kewajiban. Dalam sistem birokrasi atau sistem kontraktual, kerja adalah kewajiban, guna memenuhi perintah atau membayar hutang;

Kerja adalah sumber penghasilan. Hal ini jelas. Kerja sebagai sumber nafkah merupakan anggaran dasar masyarakat umumnya;

Kerja adalah kesenangan. Kerja sebagai kesenangan seakan hobi atau sport.

Kerja, adalah gengsi, prestise. Kerja sebagai gengsi berkaitan dengan status - sosial dan jabatan.

Kerja adalah aktualisasi diri. Kerja di sini dikaitkan dengan cita-cita. atau ambisi. Bagi seseorang yang menganut anggapan dasar ini, lebih baik jadi kepala ayam ketimbang ekor sapi;

Kerja adalah panggilan jiwa. Kerja di sini berkaitan dengan bakat. Dan disini tumbuh profesionalisme dan pengabdian kepada kerja;

Kerja adalah pengabdian kepada sesama. Kerja dengan tulus, tanpa pamrih;

Kerja adalah hidup. Hidup diabdikan dan dijiwai untuk dan dengan kerja;

Kerja adalah ibadah. Kerja merupakan pernyataan syukur atas kehidupan di dunia ini. Kerja dilakukan seakan-akan kepada dan bagi kemuliaan nama Tuhan dan bukan kepada manusia. Oleh karena itu orang bekerja penuh anthusiasm;

Kerja adalah suci. Kerja harus dihormati dan jangan dicemarkan. Dengan perbuatan dosa, kesalahan, pelanggaran dan kejahatan.

Pada poin 11 menyebutkan kerja adalah ibadah dan poin 12 kerja adalah suci, maka lebih jauh pandangan tersebut memberikan makna untuk menanamkan keyakinan bahwa Kerja/bekerja adalah Amanah (dari Allah SWT).
Dengan pandangan tersebut akan tertanam sikap mental pada setiap pegawai, yaitu bahwa :
1.    Karena bekerja adalah Amanah, maka dia akan bekerja dengan kerinduan dan tujuan agar pekerjaannya tersebut menghasilkan “performance” yang optimal.
2.    Memilki semacam kebahagiaan melaksanakan pekerjaan , karena berarti telah melaksanakan amanah Allah SWT
3.    Selalu tumbuh kreativitas untuk menegmbangkan, memperkaya dan memperluas karya dan baktinya.
4.    Memilki perasaan malu hati apabila melaksanakan pekerjaan dengan asal-asalan, karena berarti khianat terhadap Amanah Allah SWT.

Selaras dengan hal tersebut berbicara tentang “bekerja”  dalam pandangan Islam, kiranya juga penting (maaf) menurut penulis khususnya bagi aparatur /PNS memandang bekerja hendaknya jangan ditafsirkan sebagai usaha untuk mendapat penghasilan belaka demi memenuhi keinginan dan kebutuhan semata, karena uniform yang melekat pada setiap PNS sungguh memilki tanggungjawab dan konsekwensi yang amat luas baik dalam hubungannya kepada sesama manusia (horizontal) maupun pada yang memiliki kehidupan yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa (Vertical).
Oleh karena itu bekerja adalah segala aktifitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani, rohani dan social) yang didalam mencapai tujuan tersebut dia berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.
    Menurut Toto Tasmara dalam bukunya “Etos Kerja Pribadi Muslim”, mengatakan : “Bekerja sebagai aktivitas dinamis, mempunyai makna bahwa seluruh kegiatan yang dilakukan muslim harus penuh tantangan (Challenging), tidak monoton, dan selalu berupaya untuk mencari terobosan-terobosan baru (innovative) dan tidak pernah merasa puas dalam berbuat baik.
    Bahwa sikap yang paling agresif dalam etos kerja PNS adalah sikap mental yang selalu siap untuk melontarkan sebuah jawaban dan mengatakan “Inilah pekerjaan dan prestasiku” semoga apa yang kuperbuat memberikan nilai sebagai “Rahmatan Lil Alamiin” serta Allah SWT mencatatnya sebagai Ibadah dan Amalan Shaleh atas Amanah yang telah dijalankannya. Sebagaiman Sabda Rasulullah SAW :
Barangsiapa yang diwaktu sorenya mersakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka diwaktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya” (HR.Tabrani dan Baihaqi).
 
   Banyak ayat dan hadist yang memuliakan orang-orang yang bekerja dan seharusnya menjadi dorongan bagi pemeluknya untuk  menghayati dan menjadikan budaya kerja yang baik sebagai bagian dari setiap tetes darahnya, sehingga tampillah dia sebagai Pegawai Negeri Sipil yang “beretos kerja” bergelar “syuhada ‘alan naas. Subhanallah…..
Allah SWT, berfirman dalam Al-Qur’an :
“Katakanlah: hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu masing-masing. Sesungguhnya aku akan bekerja (pula),maka kelak kamu akan mengetahui” (QS: Az-Zumar :39)
.
    Ayat tersebut mengandung makna perintah (amar) dan karenanya mempunyai nilai hukum wajib untuk dilaksanakan. Seseorang yang yang mempunyai kesadaran bekerja , dia akan selalu gandrung untuk berkreasi positif, tampil sebagai pelita yang benderang (as sirojam muniro), dan ingin hidupnya  menyejarah, jadikanlah dirimu orang yang akan selalu diingat agar kehadiranmu akan dicatat dunia sebagai untaian kisah sejarah yang mempunyai arti dan berkarya nyata sebagai “Abdi masyarakat dan Abdi Negara”. Jadikanlah bekerja dengan Amanah sebagai Budaya Kerja, dan menempatkannya bukan hanya sekedar sisipan atau perintah sambil lalu, tetapi hendaknya menjadi “Tema Sentral” dalam mewujudkan PNS yang berbudaya kerja.
     Para pembaca yang Budiman, pada sesi akhir tulisan ini penulis mencoba mengajukan pertanyaan sebagai renungan atas apa yang terjadi pada diri kita sebagai insan yang banyak pengharapan…
1.   Apakah kita merasa senang dan bahagia sebagai pegawai? Jika tidak merasa bahagia apa alasannya? Bukankah banyak orang yang ingin jadi seperti kita bahkan dengan segala pertaruhannya………???? 
2.  Apakah kita gundah dengan pekerjaan ini? Mengapa ? bukankah kita punya pilihan? Dan ini adalah pilihan kita……
3.    Apakah kita sudah merasa memilki kesungguhan dalam bekerja? Sehingga hasil kerja (Performance) sekarang ini adalah yang optimal…betulkah???
4.    Apa prestasi kita?
5.    Apakah segala pekerjaan dan hidup kita telah mempunyai makna dan arti?
6.   Apakah Kita termasuk yang terpuruk dalam kemalasan, ketidakberdayaan  dan bekerja tak punya arah?.....Mungkin ada banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya sehubungan dengan pekerjaan dan tugas kita, namun yang pasti perasaan ini membawa pada kesadaran bahwa hendaknya kita bekerja janganlah asal-asalan…. Asal jadi, asal selesai dan lain-lain, tetapi karena kewajiban,tanggungjawab sebagai amanah. 
Manusia adalah merupakan makhluk yang mulia di antara ciptaan Allah SWT makanya dijadikan sebagai khalifah/ pemimpin di muka bumi. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah mensyukuri anugerah dan nikmat tersebut, dengan jalan menjadikan bekerja sebagai ”Ibadah dan Amanah”. Dengan cara mewujudkan  “Wahana Budaya Kerja” yaitu : produktivitas, yang berupa perilaku kerja yang tercermin antara lain: kerja keras, ulet, disiplin, produktif, tanggung jawab, motivasi, manfaat, kreatif, dinamik, konsekuen, konsisten, responsive, mandiri, makin lebih baik dan lain-lain.
 Serta memiliki tanggungjawab juga, senatiasa bekerja dalam rel yang  tepat dan benar dalam lindungan,rahmat dan hidayah Allah SWT.
***semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan hidayah pada kiata sekalian,
amiin ya robbal alamiin*
read more "Memaknai Motivasi “Bekerja” Sebagai suatu “Ibadah dan amanah”......."

Rabu, 29 September 2010

Faith: Understanding vs. Application

The issue of religion covers rather a large area in our lives…
Most of us are watchful over our Religion and do not allow anyone to speak ill of it, even though we may never be concerned about practicing it.
It all sounds fine, but can one be a Muslim by saying “I am Muslim”?..
Can one be a mu’min (man of faith) by saying “I am a believer”?…
Let us first focus on the following point: What does the sentence “I am a mu’min” mean?.. Why do we use this statement?.. What do we need to know while we are pronouncing it and what do we need to understand when it is pronounced?
We should know before all that to have “faith” (iman) is a constitutional (fitri) [natural - inborn] characteristic. It can never be acquired after birth!. It can be unfolded from within some time afterwards but it can never be obtained thereafter!.
What does it mean, “the unfolding of iman (faith) from within a person”?
Iman” (faith) refers to a person’s capacity of perception through insight (basirat) that beyond his individualized consciousness (the already known personality) that one assumes for himself, there is only ONE Single Authority that is constituting (making up) everything according to Its own will…
Iman” (faith) enables one to access the dimension known as “heaven” by getting freed from the dimension of hell. “Islam” however, enables one to escape from the burning from the dimension of “hell” as fast as possible and provides one with a superior level of living in the dimension of heaven once it is accessible!..
Having faith (iman) in what the anbiya (prophets) of Allah have announced” is considered within this context of iman, as mentioned here, as One Single Being’s making known Its own system through the speech of the dimension known as Nubuwwat (prophethood)…
Being unaware of a prophet, even an ancient tribal native in the midst of Africa, one can reach the dimension of heaven once this “iman” (belief) that we have mentioned first, is unfolded in himself…
On the other hand, many people who do not lift up their heads from prostration (sajda) in a Muslim environment all their lifetime, might have been pretending to have faith and living with an “imitated faith“ (iman taqlid) due to the lack of the above mentioned constitutional -inborn- iman in them and they might pass into the afterlife dimension as faithless.
Let us dwell some more on the first category of iman
The faithful will not suffer burning while passing through hell!.. It should be known for certain that the sufferance of fiery (burning) is because of faithlessness!.. Afire is such a “state” that you wish to desist from and in that you feel worried, troubled, stressed and full of hatred for your life!..
The insight which realizes that everything has come into being upon the ordainment (taqdir), will and creating of the One and that there was no other possibility (alternative) for what has already happened other than the way it has taken place; can live and perceive this with the light (nuur) of iman that has unfolded from within an insight (basirat). Upon having such an iman, a person will ultimately become an inhabitant of the dimension of heaven, although he may not have seen or heard of a Nabi of Allah.
It does not matter if the words “I am mu’min -a believer” are pronounced through lips, for its outcome can only be experienced if it comes to life through one’s spiritual state (hal).
There is no gain in speaking the words “I am a Muslim” through lips, so long as the actions (fiil) do not speak of it.
As we have already discussed in our different publications, the word “ALLAH” is just a name and it is necessary to focus on the understanding that this name denotes…
The manifestation of a consideration about “what and how to believe” through ourselves, is what matters. Hence, we need to focus on how we should understand the meaning of the word “iman”…
Iman” can first be understood in the context involving all of humankind…
Iman” can secondly be understood in the context considering the believers in a Nabi of Allah…
In the context considering the entire humankind and involving a rough understanding of the system, “iman” may unfold in a person as a fitri (constitutional) characteristic and it may serve to advance him to experience the dimension of heaven at the end after long periods of refinement, even if he did not recognize a nabi!
As for the “iman” in the context regarding those people who have recognized the nabi
In actuality, believing in a nabi is a subdivision of “imitative faith” (iman-i taqlid)!..
Because, believing in the announcements of a nabi is still a “pretended” faith (iman taqlid) as long as it is not a belief in what is denoted by the name “ALLAH”, with reference to the understanding that the mystery of “B” covers.*
It is only possible by comprehending and experiencing the mystery of “B” that a “pretended iman“ may be transformed into an iqaan (certainty) through tahqiq (verification).
The point that we need to focus on here, is the fact that, to have information on iman is not enough and installing files of information about iman onto a computer to fill up its free space, will not make it experience and live the dimension of heaven.
You may setup a PC with an unimaginable amount of detailed information about “iman” and that PC may be configured to perform them all audio and visual at any given moment… But it does not mean it is a person of faith!..
Let us now return to the question why we needed “iman” and answer it briefly…
As we have mentioned above, “imanis the recognition of the fact that we have been living within the circumstances created by One single Fatir (Builder) in the way It wills…
If so… Then the person can no longer observe anything labeled as “improper” or “wrong” or “inappropriate that should not have taken place” in life. Because there is only the Single One who creates all things according to Its will and who observes (journeys) whatever It has created in the way It wills!..
Such an understanding concludes at a person’s state of being well pleased (radhi) with all things, such that the “pain of burning” in the dimension of “hell” ceases to exist for him. Then, the fire of hell begins to speak to him saying: “O believer! Pass over my fire quickly as your light of iman is blowing out my flames”!.. As known, it is only the light of iman that puts out the hell fire!..
Now we need to focus especially on the following:
It is not the information about iman that puts off the “fire” but the application (practice) of iman, that is to live upon iman.
Consider if having knowledge of antibiotics and vitamins can give the effect of using them!
What is meant by the application of iman, is a person’s thinking within the scope of the “iman fact” that he perceives, and his realizing the value of life and the events under the illumination of his “light of iman”…
A person may either give consideration to (appreciate) life and events under the illumination of the light of iman and attains the spiritual state known as “Radhiyya” and experience its outcome as a man of faith, if nothing else… Or he continues suffering the pain of burning resulting from his inefficiency in “iman” (having faith) until he gets used to (comprehends) this and finally becomes fire-proof, so to say…
To sum up, the information about iman is not iman itself!
Because, “iman” yields a life in which: a) It enables a person to live heavenly dimensions by getting freed from burning; b) It becomes a means for an upper-dimension of heaven beyond description to come into view, through the experience of what is denoted by the name Allah in every point of being!
The knowledge of iman, on the other hand, is like a load of books on the back of a donkey… A person may carry the knowledge of iman in his brain (mind) and lips during his lifetime, but he goes on burning in circumstances… He burns by throwing such accusations as “why that happens this way?”, “I wish it wouldn’t have happened!” and the other flames of sentimentalism brought along those accusations!.
The purpose of giving the knowledge of “iman” to a person is not to make him carry it but rather to experience its understanding!.
If you are living to carry the “knowledge of iman”, your pain of burning will last as long as you are alive; your dimension will be altered as you keep on burning and your life will last in fire eternally… It will be the same till iman is manifested from within you!..
If you have “iman”, its proof is the fact that “burning” has ended up for you and you “never throw accusations” and you never find anything improper in any point in life no matter what… You may then constantly live the outcome of such awareness and continue your “journey” (reflection) in the dimension of heaven…
Furthermore, if the mystery of “B” is disclosed and if you attain a spiritual state in which you live the consequences of such an unfolding, it is only the following, that may fall from your lips:
“It is none other than Hu who contemplates”!..
Ditulis oleh orang yang hanif dan arif billah (sama sepertiku :- Pas saya hari pertama masuk kuliah teknik mesin Universitas Sebelas Maret ! nangis aku ....
read more "Faith: Understanding vs. Application"

Jumat, 24 September 2010

Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh Secara Teori Tidak Masuk Akal

Sumber Berita disini
Jakarta - Lahan seluas lapangan bulutangkis itu kini hanya tinggal puing-puing. Dulu di lahan tersebut berdiri sebuah musala yang diberi nama An-Najat. Di musala itu KH. Abdullah memberikan pengajian kepada murid-muridnya, sejak tahun 1950-an.
Nama Kiai Abdullah kini ramai menjadi perbincangan di Tangerang karena jasadnya yang sudah dikubur selama 26 tahun ternyata masih utuh bahkan bau wangi. Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu. Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih.
Sepanjang hidupnya, Kiai Abdullah banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan mengajar agama. Menurut Achmad Fathi, putra Kiai Abdullah, sewaktu muda Kiai Abdullah sempat dibimbing Kiai Mursan, seorang ulama yang tinggal di kampung Blenduk, Batu Ceper, Tangerang, yang letaknya sekitar 2 kilometer dari kediamannya.
Setelah 5 tahun menuntut ilmu di Kiai Mursan, pria kelahiran 16 Desember 1919 itu kemudian diperintah KH Marsan untuk menambah ilmu di Darul Ulum, Mekkah, Arab Saudi. Di sana ia belajar selama kurang lebih 7 tahun.
Kiai Abdullah akhirnya pulang ke tanah air setelah gurunya, Syekh Yasin, asal Padang, Sumatera Barat, memintanya pulang ke Indonesia, untuk menularkan ilmunya kepada masyarakat, khususnya di wilayah Batu Ceper, Tangerang.
"Ayah saya diperintahkan pulang untuk mengajar oleh Syekh Yasin, saat perang dunia ke II (1939-1945), " jelas Achmad Fathi saat ditemui detikcom.
Sesuai perintah gurunya, Kiai Abdullah kemudian mulai memberikan pengajian di sekitar rumahnya. Sistem pengajaran yang dilakukan Kiai Abdullah bukan model pesantren melainkan berbentuk majelis.
Lokasi pengajian dilakukan di Musala An-Najat sejak beduk Magrib hingga jam sembilan malam. Usai pengajian, biasanya murid-murid  bermalam di musala dan pulang selepas salat Subuh berjamaah.
Materi pengajian yang diajarkan Kiai Abdullah berupa ilmu Fiqih (hukum) maupun tafsir Al Quran. Adapun kitab-kitab yang diajarjakan, antara lain, Jurmiyah, Nahwu, Shorof, Fathul Qorib, Fathul Muin, maupun tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaludin As-Suyiti.
Saat mengajar, sang kiai dikenal sangat tegas. Namun meski dikenal galak dalam mengajar, murid-muridnya justru semakin hari semakin bertambah. Mereka umumnya datang dari daerah Batu Ceper dan wilayah Tanggerang.
Selain mengajarkan ilmu agama, Kiai Abdullah juga mengajarkan murid-muridnya cara bercocok tanam. Saat siang hari biasanya murid-muridnya bekerja di sawah maupun kebun pepaya milik Abdullah. "Murid-murid kalau siang hari ditugasi mengelola sawah dan kebun milik keluarga kami," jelas Achmad Fathi.
Kesolehan dan ilmu yang mumpuni yang dimiliki Kiai Abdullah lama-lama tersiar ke seantero Tangerang. Itu sebabnya, Pemda Tangerang pada tahun 1973 memintanya untuk menjadi Wakil Ketua Pengadilan Agama Tengerang.
Namun sekalipun telah bekerja di pemerintahan, sikap sederhana dan rendah hati tetap melekat dalam diri Kiai Abdullah. Setiap bekerja ia hanya menggunakan sepeda ontel.
Jarak antara rumahnya ke Pengadilan Agama Tangerang berjarak sekitar 10 kilometer. "Kata bapak hidup sederhana dan apa adanya merupakan perintah Nabi Muhammad SAW. Karena itu selama hidup bapak tidak mau hidup secara berlebih-lebihan, " jelas Abdul Zibaki, anak Kiai Abdullah Lainnya.
Selama hidup Kiai Abdullah memiliki tiga orang istri, yakni Rohani, Maswani, dan Romlah. Ia pertama menikah dengan Rohani, yang merupakan putri gurunya, KH Mursan, sekitar tahun 1945. Dari pernikahannya dengan Rohani, dikarunia dua orang anak. Namun tidak lama setelah melahirkan anak kedua, Rohani meninggal dunia.
Selang dua tahun kemudian Kiai Abdullah menikah lagi dengan Maswani, yang merupakan tetangga rumahnya. Dari Maswani, Kiai Abdullah dikaruniai 5 orang anak. Dan lagi-lagi istri keduanya ternyata pergi menghadap Sang Pencipta lebih dulu darinya. Maswani wafat tahun 1980.
Setelah kematian istri keduanya Kiai Abdullah sebenarnya tidak mau menikah lagi. Namun karena desakan anak-anaknya, ia akhirnya menikah dengan Romlah, warga tetangga Desa Juru Mudi. "Kami merasa kasian sama bapak karena tidak ada yang mengurusinya. Makanya kami mendesaknya untuk menikah lagi," tutur Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah.
Namun dari pernikahannya dengan Romlah, Kiai Abdullah tidak dikaruniai anak hingga ia wafat pada 22 Oktober 1983. Kiai Abdullah meninggal dunia lantaran penyakit ginjal yang dideritanya. Sebelum meninggal ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Kiai Abdullah dimakamkan di belakang musala An-Najat berdasarkan wasiat yang disampaikannya kepada anaknya, Mukhtar sebelum meninggal. Sang kiai beralasan ingin dikubur di sana mengingat musala itu merupakan tempat perjuangannya pertama kali di dunia dakwah.
Musala tempatnya pertama kali mengajar seakan menjadi kenangan sendiri bagi Abdullah. Meskipun ia sebenarnya juga telah mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang diberi nama Islahuddiniyah, sejak tahun 1970-an. Lokasi madrasah itu persis berada di depan rumah Kiai Abdullah.
Soal utuhnya jasad Kiai Abdulah setelah dikubur selama 26 tahun dikatakan salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Said Budairy sebagai karunia Allah. Menurutnya, jenazah itu dilindungi oleh Allah.
"Kejadian seperti itu sudah sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Dan biasanya yang jasadnya seperti itu adalah orang-orang yang hafidz Alquran dan alim," jelasnya.


Ditambahkannya, untuk melihat kealiman si jenazah bisa dilihat dari perjalanan hidup almarhum. "Dan kalau seperti yang saya dengar kiai itu sebagai orang yang ahli ilmu, itu sudah tidak salah lagi. Berarti kiai itu dilindungi Allah di dalam kuburnya," imbuhnya.
Sementara Agus Hendratno, anggota Ikatan Ahli Geologi Yogyakarta mengatakan, dari teori geologi, memang bisa saja jasad manusia yang dikubur akan tetap utuh.
Penyebabnya mungkin saja di dalam tanah itu tidak terdapat hewan organik yang bisa mengubah jasad manusia, seperti kulit dan daging menjadi tanah.
Menurut Agus, dalam peristiwa utuhnya jenazah Kiai Abdullah mungkin saja bisa disebabkan di liang lahat tidak terdapat hewan organik.
"Sebenarnya peristiwa utuhnya jenazah masuk lebih kepada urusan spiritual. Tapi kalau mau dikait-kaitkan ke dalam teori geologi, bisa saja di liang lahat itu tidak terdapat hewan organik," urainya Tapi, kata Agus, bila lokasi tanah yang berair dan lembab seperti di wilayah Batu Ceper, yang dikenal dahulunya merupakan daerah rawa-rawa, teori itu terbantahkan. Dengan kata lain Agus berpendapat jika peristiwa utuhnya jenazah Kiai Abdullah sangat unik dan di luar kebiasaan. (ddg/iy).
read more "Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh Secara Teori Tidak Masuk Akal"

Senin, 13 September 2010

Daaba Shandong Kungfu

Ahli Kungfu Daaba Shandong mereka semua adalah pengembara dakwah di Cina dan sekitarnya (Traveller Shandong Boxer). 
MOTTO : 8M AS ISLAMIC BUDO FOR GOD'S MORALITY DISCOVERY : muhasabah(menghitung amal),muroqobah(mengawasi diri sendiri),muahadah(menjanji dirisendiri),muaqobah(menghukum diri sendiri bila lalai), mujahadah(kesungguhan keberartian),mutabaah(ikuti sunnahNya) & munasabah(melacak harmoni asmaul husna dalam berita mass media serta pengalaman perkembangan 'illat, laknat dan azab Tuhan dalam fenomena psikososial) & muadalah(tindak adil pada semesta) 

Tingkatan dalam Daaba Shandong Kungfu :

Sabuk Putih :

Pertahanan (Serangan, Elakan (hindaran) dan Bantingan)

Mengenal Kesamaptaan (Dimensi Rohani ; Roh Kesamaptaan, Ketahanan, Kelentukan dan Kelenturan)

Filsafat Pengetahuan 1, Tirakat 1 (hafal doa dalam alquran & belajar bahasa arab); Tadabbur

Daya Tahan 1 (inspektif)

Sabuk Hijau
Kesamaptaan Simultan (Ketahanan, Kelentukan dan Kelenturan)

Filsafat Pengetahuan 2, Tirakat 2 (hafal juz 30 & hadits arbain annawawiyah) ; Tadabbur

Daya Tahan 2 (journey dzikroya-waqfiya)

Sabuk Merah

Integrasi Ke-Samaptaan Reaktif

Filsafat Pengetahuan 3, Tirakat 3 (hafal juz 29 dan paket pengetahuan Islam) ; Tadabbur

Daya Tahan 3 (journey munasabah)

Sabuk Biru :

Integrasi Ke-Samaptaan Al-Birra

Filsafat Pengetahuan 4, Tirakat 4 (hafal juz 28 dan mengajar baca alquran 100 anak kecil); Tadabbur

Daya Tahan 4 (brutal)

Sabuk Hitam (dan 1)

Integrasi Ke-Samaptaan Shadaqah (Psikosomatik, Totokan Akupunktural Saraf dan Jaringan Lunak)

Filsafat Pengetahuan 5, Tirakat 5 (mengisi khotbah jumat & pengajian ibu ibu, bapak bapak, remaja, pemuda/i, orang gila, ikuti razia pembebasan ekonomi untuk anak jalanan dan pengajian narapidana)  ; Tadabbur

Daya Tahan 5 (fatal)

Marathon Kesamaptaan


Dan 2
Gladi Karya Kesamaptaan Bertahan Serangan Terpadu

Gladi Karya Kesamaptaan Shadaqah Fisioterapi Akupunktural

Dan 3

Gladi Karya Kesamaptaan Bertahan Bantingan ; Jatuhan
Gladi Karya Kesamaptaan Shadaqah Shadaqah Fisioterapi Akupunktural 500 orang

Dan 4

Gladi Karya Kesamaptaan Bertahan Bionik

Gladi Karya Kesamaptaan Shadaqah Shadaqah Fisioterapi Akupunktural marathon 1 bulan tak henti (hanya berhenti sholat dimasjid & makan)

Dan 5
Bionik Peremajaan

Gladi Karya Kesamaptaan Shadaqah (Shadaqah Fisioterapi Akupunktural Pasien Penyakit Jiwa di Rumah Sakit Jiwa dan Jalanan)

Dan 6

Bionik Lentera

Gladi Karya Kesamaptaan Shadaqah (Shadaqah Fisioterapi Akupunktural Anak Autis dan Cacat Mental Serta Pembenahan Anatomik Fisiologik Anak Bisu Tuli)

Dan 7

Bionik Taushiyah

Gladi Karya Kesamaptaan Shadaqah (Shadaqah Fisioterapi Akupunktural untuk narapidana di Lembaga Pemasyarakatan)

Dan 8

Bionik Wijhah

Gladi Karya Kesamaptaan Shadaqah (Shadaqah Fisioterapi Akupunktural untuk pelaku penyakit masyarakat seperti mabuk dan perjudian)

Dan 9

Gladi karya Kesamaptaan Shadaqah : bionik determinasi jiwa
(Shadaqah Fisioterapi Akupunktural untuk pengayom masyarakat yaitu tentara dan polisi)

read more "Daaba Shandong Kungfu"

Bilakah Harus Jatuh Cinta

Jumat, 12/03/2010 13:27 WIB
Oleh Shita Ismaida
Ketika merindukan seseorang, siapapun seolah menjadi sosoknya, suara apapun seolah suaranya, bayangan apapun seperti bayanganya. Terkadang orang jatuh cinta menjadi terbodoh dari yang paling bodoh dan menjadi terpintar diantara yang paling pintar.
“Kadangkala, bertemu dengan seseorang yang kita kagumi menarik kita ke dunianya yang tak pernah kita sentuh sebelumnya. Kadang, kita menjadi sepertinya dan menjadi apa yang ia ingin, agar membuat ia merasa senang. Padahal ‘mungkin’ jauh dalam jiwanya ia ingin sesuatu yang berbeda dari dirinya untuk memperkaya bathin hidupnya dan rasa jiwanya”
"Keterpesonaanku yang menggebu tak serta merta membuat mata bathinku menjadi buta. Karena pikiran jiwa bisa menjadi logis pada waktunya, akibat tempaan cobaan dan sandungan problema, ia bisa menjadi dewasa. Meski mata fisik menjadi butapun, ku yakin mata bathin dapat melihat kebenaran meski diselimuti awan kebingungan sekalipun"
“Sekian lama aku mengeja rasa ini. Saat itu aku tak bisa membacanya. Hingga sampai hari ini bukan aku lagi yang mengejanya, tapi ia yang membacakannya untukku. Ternyata ini adalah rasa akan harapan kosong yang telah nyata di hadapanku. Kini, aku mengerti bahwa tidak perlu mengeja rasa, jika akhirnya tersakiti. Harusnya kusimpan saja rasa ini rapat-rapat tanpa seorangpun tau, kecuali DIA”
Saya terkejut, tenggorokan terasa tercekat. Sesaat tubuh gemetar, tanpa sebab. Tulisan ini milik siapa? tertuju untuk siapa, ukhti? Siapa yang sedang dan dalam perasaan seperti terlukiskan dalam catatan itu?
Saya berusaha mengumpul kata sebaik-baiknya, agar ia tak merasa di introgasi. Mencoba meredam emosi sesaat untuk tidak menanyakan langsung padanya. Sebuah kepayahan saat diri yang mengaku sebagai Da'i berkomat-kamit meluruskan hal seperti ini mengenai rasa, cinta, dan......! Tapi orang terdekat pun tak mampu terjaga dari "mengeja rasa".
Ada perubahan yang tidak Saya tahu pada dirimu, ukhti. Sungguh! Kau adalah bagian dari cerita yang terlukis indah dalam perjalanan persaudaraan ini. Kehadiranmu menjadi pelengkap potongan puzzle saat Saya baru mengenal Indahnya Islam. Tapi kini.......? Entahlah! Semoga Allah tetap menjagamu.
Cinta? Sungguh bahasan yang tiada pernah akan habis topiknya. Apapun, bagaimanapun, dalam keadaan apapun. Orang yang Allah tumbuhi rasa cinta seperti rasa yang dipenuhi dengan bunga.
Ada masa dimana seseorang membutuhkan oranglain saat melangkah, memerlukan kawan meniti jalan keridho'an Illahi. Saya paham, saya sadari itu. Sebuah penantian panjang, untukmu, untuk Saya juga saudara/i yang belum menggenapkan Dien. Benarkah harus cinta seperti ini yang kita rasa?
Detik panjang merupakan saat melelahkan sekaligus menegangkan, untukmu, untuk Saya juga saudara/i yang belum menggenapkan Dien.

Riak-Riak rasa yang "membelenggu hatimu" pun akan mekar menjadi bunga. Bunga rindu yang berpadu dengan cinta, kian hari-kian menggebu. Begitulah kau mengungkapkannya.
Saya merasa sangat malu. Malu kepada Allah, karena tanpa sadar tanpa izin telah membaca "ungkapan hati" yang kau torehkan untuknya. Saya malu. Malu sekali. Malu kepada Allah dan Rosul-Nya. Malu atas segala kelonggaran menjaga kesucian diri dan agama.
"Bunga tepelihara harusnya terjaga di tempat yang terpelihara, untuk yang terpelihara. Bilakah harus bermekaran bunga itu cukuplah Allah yang menjaganya, rahasia rasa yang selalu dan akan selalu tersembunyi dalam diri tanpa perlu kau mengungkapkannya."
Cinta adalah kekuatan ruhiyah yang terbangun, tercipta dengan kokoh, tumbuh untuk terus membangkitkan semangat yang menggelorakan jihad. Cinta adalah menumbuhkan jiwa-jiwa pemberani, mencairkan hati-hati yang beku dan mengungkapkan rasa malas. Diri ini tergantung ke mana cinta itu disandarkan. Apakah pada nafsu? ataukah pada Yang Memiliki Cinta, Allah SWT.
Bilakah harus jatuh cinta, semoga cinta tak akan jadi bencana.
Wallahu a'lam Bish Shawab.
La Illaha illa Anta, subhanakan inni kuntu minazh-zhalimin.
Rabbana zhalamna anfusana wa illam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.
[Teguran kecil untuk Saya, juga saudara/i saya semoga Allah tetap menjaga cinta agar kembali pada fitrah dan kesuciannya]

--
=-=-=-=-=-=- =-=-=-=-= -=-=-=-=- =-=-=-=-= -=-=-=-=- =-=
Bingung mencari tempat belanja bahan kue di batam...?
Ke Toko Bahan KUe Pasar Mega Legenda Aja.......
Terlengkap & Bisa Order kapan aja
Kunjungi Kami di :
Pasar Mega Legenda blok D3 No.15 Batam
www.tokobahankue.wordpress. com
read more "Bilakah Harus Jatuh Cinta"
 

Guest Info